Hikayat,Babad,
ataupun Tambo dalam refleksi kultural merupakan penjelasan atau representasi
masa lalu dari pemahaman masyarakat lokal di suatu tempat, berdasarkan apa yang
mereka pahami tentang masa lalu mereka tanpa memperhatikan aspek-aspek keilmuan
seperti yang terdapat dalam ilmu sejarah
kritis. Oleh karena itu ada yang menyebut historiografi ini sebagai tradisi
tempatan. Kelompok-kelompok masyarakat tertentu memiliki historiografi
masing-masing yang khas, hal ini disebabkan adanya pengaruh budaya yang
berkembang dalam tiap-tiap masyarakat
Babad
biasanya ditulis oleh pujangga, mereka biasanya menggunakan nama-nama samaran
dalam menuliskan kisahnya. Para pujangga ini merupakan bagian dari tokoh
politik raja dalam upaya legitimasi kekuasaanya . Tulisan yang pujanga hasilkan
merupakan hal yang penting dalam stabilitas politik yang sangat menentukan
kelangsungan pemerintahan. Oleh karena itu tak jarang dalam sebuah periode
pemerintahan raja meminta pujangga untuk memproduksi sebuah naskah dengan
mengabaikan naskah sebelumnya, artinya pujangga itu menggunakan sudut
pandangnya sendiri. Hal ini yang kemudian menjadikan substansi dari
historiografi-historiografi ini memiliki unsur subyektif yang tinggi.
Di
dalam historiografi Melayu, para pujangga lebih domina mengunakan bahasa Arab
Melayu dan huruf Pegon. Hal ini terjadi karena banyak pujangga yang berasal
dari daerah sekitar Arab datang kesana. Bentuk penulisan yang dikunakan juga
dipengaruhi oleh pantun dan syair Persia, seperti misalnya dalam Tajussalatin
karangan seseorang yang mengunakan nama samaran Buchari Al Johari yang berisi
tentang pedoman pemerintahan Raja dimana penuturannyadituangkan ke dalam empat
buku syair yang menggunakan aturan Persia: Matsanawi, Ghazal, Ruba’I, dan
Qit,ah.
Historiografi
sebagai aspek kultural karena masih banyak mengandung mitos dan ada unsur
legitimasi, dan belum punya metode penulisan sejarah yang jelas. Hal inilah
yang menjadi salah satu alasan bagi para sejarawan untuk beranggapan bahwa
askah-naskah seperti ini tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah karena
tidak ditemukan waktu riil. Pada penulisan tahun misalnya, penulis asli tidak
menuliskan dalam bentuk angka, namun dengan kata kiasan yang berfungsi sebagai
simbol, walau tak bisa dipungkiri beberapa naskah sudah ada yang ditulis dengan
angka tahun secara jelas karena adanya perkembangan tradisi.

Komentar
Posting Komentar